Wednesday, April 20, 2011

ulat bulu

Pagi ini kembali membawakan berita update tentang ulat bulu, sudah ke 5 kali nya dalam minggu ini.
bosan
iya.
ini fenomena yang terlalu di lebih lebihkan
seperti yang biasa terjadi di indonesia
what can i said except enjoy it?
toh saya dapat makan dari membacakan berita ulat bulu ini.
sama juga dengan briptu norman yang kemunculannya tidak ada habisnya dilayar kaca
am getting bored actually
juga dengan beberapa berita yang tampaknya diekspose terlalu dalam sampai kehilangan inti beritanya.
saya sendiri lebih tertarik dengan berita malinda dee
for me it's kind a fresh joke
i usually use malinda dee's joke for refreshing mind, and that always working
even i dont know why.

ulat bulu sendiri sudah menyebar ke daerah rumah saya.
saya ingat satu hari sebelumnya ketika sedang berjalan di sebuah mall dengan teman  teman
bercengkrama asyik sambil berusaha mengeluarkan topik topik ringan.
" fenomena ulat bulu ini cuman di lebih lebihkan deh" saya.
" tapi kan kenyataannya sudah menjadi wabah yang mengerikan di beberapa daerah" upi.
"tapi liat deh ya, seperti yang tadi di surabaya di beritakan, itu cuman sekumpulan kecil ulat bulu yang kebetulan makan daun aja" saya tetap bersikukuh.
"dan bukannya itu fenomena tahunan yang biasa terjadi?  ulat makan daun, jadi kepompong, berubah jadi kupu2?" saya mengakhiri pembicaraan.
pernah juga suatu ketika sedang berbicara dengan seorang sepupu.
"orang 2 ini lebay deh, jaman ulat bulu mereka ketakutan sampai dibasmi basmi, giliran udah jadi kupu kupu di tangkep tangkep dibilang indah sekali, sambil bersyukur" sepupu saya bilang sambil baca koran.

saya sendiri menaggapi ulat bulu dengan sangat biasa saja, as long mereka tidak masuk kekamar dan menganggu kesakralan momen tidur saya.
toh pada kenyataannya saya lebih takut gendut daripada ulat bulu
"gatel kena ulat bulu tinggal di kasih salep anti gatel men, gendut karena kebanyakana makan butuh 1 bulan buat nurunin lagi" kata seorang teman.
emang bener.
perjuangan menurunkan berat badan akan beribu kali lebih berat daripada perjuangan melihat ulat bulu
beberapa pohon yang dibiarkan mati demi banyaknya kupu kupu yang indah toh bagi saya hal yang lumrah.
bukannya itu ya esensi kehidupan?
yang lemah kalah oleh yang berkuasa?
dan ketika life cycle ini berakhir yang bisa kita temukan hanya satu taman penuh kupu kupu yang indah, yang perlu kita lakukan hanya menunggu.
sama seperti dengan kehidupan.
ada kalanya kita hanya harus menunggu apa yang akan terjadi.

tidak semua orang tau apa yang akan terjadi kan sama kehidupannya, bagi saya kehidupan itu cuman sebuah fase yang memang harus dilewati.
sama seperti perubahan ulat bulu menjadi kupu kupu
ketika sedang asik makan siang bersama teman, dia bercerita
"susah ya jadi cewek jaman sekarng, laki laki pada suka ama laki juga, abis laki sekarang cantik cantik"
"lah, makanya kamu punya yang laki punya dong, jangan besarin dada kayak malinda aja!"
"lah elu mana mau gue kencing sambil berdiri?"
"lah elu kan biar dapet laki!"
"..."
dalam hal ini menurut teman saya terdapat fase perubahan dari kecenderungan mendapatkan pasangan, mungkin teman saya ini dalam masa kepompong untuk mencari pasangan
siapa yang tau setelah ini dia operasi kelamin.
tampilannya sih sudah pas.

mudahnya, siapa yang menyangka pada akhirnya saya bisa bekerja di sebuah tv lokal, itu sebuah cita cita yang tidak pernah terpikir sebelumnya.
ada proses yang menemani terjadinya hal ini
dari merangkak, hingga harus tampil di depan layar kaca 4 kali dalam 1 minggu.
fase ulat bulu hingga kepompong sudah saya lewati
hanya perlu menunggu kepompong berubah menjadi kupu kupu
tentunya dengan berbagai usaha
karena ketika kupu kupu keluar dari kepompong pun mereka belajar mengepakan sayap.
begitu juga saya.

No comments: