Monday, February 6, 2012

lost in the market

bayangkan.
ada sebuah barang yang laku dipasaran. semua orang selalu berebut untuk punya salah satu dari barang itu.
sebagai barang yang dibeli, atau mungkin koleksi tambahan, atau mungkin sekedar enjoying without regret.
barang itu bukan barang murahan, yang banyak dicari orang, tapi barang mahal, yang selalu jadi pusat perhatian, karena selalu memiliki daya tarik sendiri di etalase kaca toko.
dan begitu semua orang punya barang itu, semua orang yang mampu membeli, dan mendapatkan, beruntung mungkin. barang itu tetap saja di produksi. dan tetap berada di toko tersebut.

sampai suatu hari ada seorang pembeli yang berusaha untuk memiliki. pembeli yang ini berbeda.
ketika semua hanya perlu melihat sepintas untuk mengatakan iya kepada penjual barang tersebut, pembeli ini melihat dengan teliti wujud barang tersebut. dia tau, ada yang salah walaupun tidak kentara dari barang tersebut.
pembeli ini bukan orang baru, dia sudah lama melihat barang yang dijual itu di etalase, setiap saat dia melihat, dan tetap merasa heran, hatinya menyatakan kalau ada yang salah, dan tidak semua nya dari barang tersebut benar. namun pesona barang tersebut kadang menang dan membuatnya melupakan.
pembeli ini kemudian membiarkan perasaannya dan berlalu. hingga suatu ketika, dia berencana untuk ikut membeli barang tersebut. 

disana dia sedang berusaha untuk meneliti, ada apa dengan barang ini.
"saya nggak mau sakit hati, ketika sudah sampai rumah dan menemukan cacat barang ini, saya tau barang ini sudah tidak bisa lagi dikembalikan" katanya pada penjual.
maka penjual itu membiarkan sang calon pembeli untuk memeriksa barang dagangannya.
pembeli itu kembali memeriksa, mungkinkah perasaannya salah? mungkin barang ini sama baiknya dengan barang barang lain yang ada ditoko ini.
toh pada akhirnya dia memutuskan untuk membelinya.
"kenapa tidak berusaha mendengar apa kata orang- orang tentang barang ini?" penjual itu berkata kepada pembeli yang hati hati.
"karena mereka hanya melihat dengan mata, dan bukan hati? , entah, saya hanya ingin tau seberapa kuat barang ini bertahan mungkin". jawab sang pembeli dengan senyum manis.

barang itu sudah ada digenggaman pembeli tadi.
sampai dirumah, dia kembali memperhatikan, apakah ada yang salah dengan barang ini. dia tahu, dibalik penampilan dan pesona barang yang baru saja dimiliki, tersimpan sesuatu , yang mungkin akan membuatnya jatuh, luka, atau cukup mengagetkannya.
dan dia tidak suka hal itu.
"saya gak mau sakit hati setelah membeli mu". katanya pada barang itu.
dan barang itu tidak menjawab, dia hanya sebuah barang, dengan pesona yang luar biasa, penggemar yang dimana mana. tapi dia tidak menjawab. dia hanya sebuah barang. yang mungkin menyimpan sesuatu yang tidak diharapkan oleh pembeli tadi.

panggil dia mario. 
pembeli barang yang teliti, dan selalu mengatakan pada dirinya sendiri untuk berhati hati dalam membeli barang itu.
mario tidak perlu bertanya-tanya kepada orang lain, apa kejelekan dari barang tersebut.
dia belajar percaya barang tersebut sama bagusnya, pada akhirnya dengan yang dibeli dan dimiliki oleh semua orang.
sampai suatu saat dia menemukan salah satu temannya, yang kebetulan juga memiliki barang yang sama, bercerita tentang barang itu.
barang itu ternyata memiliki sebuah cacat. luka yang berusaha di tutupi oleh tampilannya.
dan tidak semua orang mampu melihatnya.
mario, melihat hal ini, hanya tersenyum. "sudahlah, barang ini toh tetap terlihat baik dari luar". katanya kemudian kepada temannya.

mario tidak tinggal diam.dia kemudian berkorespondensi dengan pabrik pembuat barang tersebut. dan melontarkan keluhan.
keluhan pertama dari mario di tanggapi dengan baik dan dengan cepat ditutupi oleh pihak pembuat. mario sendiri yang merasa tidak dirugikan karena kerusakan barang tersebut yang belum muncul di barang miliknya pun menanggapinya dengan santai.
"selama milik ku belum rusak, aku juga tidak akan bertindak". begitu katanya pada bayangan nya sendiri dicermin, pagi itu.
sampai suatu sore, mario kembali termenung memandangi barang tersebut. 
mencoba meraba, dan melihat kembali dengan teliti. kerusakan yang dikatakan temannya.
dan pada akhirnya dia menemukan, dan melihat sendiri kerusakan itu muncul dihadapannya.
kesetiannya pada barang tersebut runtuh seketika.
semua kata-kata yang pernah dia katakan untuk menenangkan dirinya sendiri, termasuk pagi kemarin didepan cermin, seakan semua kata itu terlempar begitu saja kemukanya. barang itu rusak, dan hampir tidak berguna baginya. hanya saja ditutupi oleh pesona yang diciptakan hingga membuatnya tetap bersinar.

mario tidak tinnggal diam. dia kemudian mengajukan komplain ke perusahaan tempat produksi barang tersebut. dan kali ini sama saja, dia mendapatkan tanggapan yang baik, dan dikatakan bahwa ini pertama kalinya pihak perusahaan menerima komplain mengenai barang yang rusak seperti yang dialami mario.
perusahaan tempat produksi barang tersebut menawarkan pengganti terhadap barang tersebut, namun mario enggan menerimanya. 
"barang ini sudah terlalu lama berada disini, saya sudah terlanjur sayang, dan enggan melepas dan beradaptasi dengan yang baru"
begitu kira kira bunyi email yang dikirimkannya ke pihak pabrik pembuatnya.
tapi bukan dengan tanpa syarat mario mengajukan pernyataan itu.

mario masih menyimpan barang tersebut, tetap ditempat semula.
dan sadar bahwa barang tersebut masih memiliki pesona yang luar biasa, walaupun memiliki kerusakan yang cukup parah.
untuk itu dia berterimakasih. walau kepercayaannya telah runtuh.
sambil memandang barang tersebut, mario bersiap keluar. menuju ke toko tempat dia membeli barang tersebut. bukan untuk komplain, hanya melihat.

ditoko itu, mario memeriksa dengan terperinci tempat dimana biasanya barang tersebut ada, dia bertanya kepada penjual nya, namun penjual tersebut tidak bisa menjawab karena dia bukan orang yang bertanggung jawab terhadap stok barang dalam toko itu.
malah, penjual tadi menawarkan sesuatu yang lain untuk mario beli, namun mario menolak.
"saya belum mau main hati" katanya pada penjual barang tersebut.
dan penjual itu pun tau betapa sakitnya orang yang di hancurkan kepercayaannya, dan berhenti menawarkan sesuatu yang lain.

mario, menemukan satu stok barang tersebut, yang tertinggal di toko, satu satunya, dan diletakan di rak paling belakang dari deretan, terlihat sedikit berdebu.
mario ambil barang tersebut, dan kemudian menyadari ada satu label terselip di deretan rak harga.
dengan tulisan
no longer available.
kemudian mario hanya tersenyum.
dan berlalu pergi.




2 comments:

sahru said...

*berpikir sangat keras* jadi kesimpulannya?

Indiana Jivat Rosidi said...

You tell me haha!