Saturday, January 5, 2013

Layar dan Hujan


Hari itu hujan, dan kantornya memutar sebuah lagu penuh kenangan ,tanpa komando.
Hujan, tidak jatuh sendiri hari itu, Naj, lelaki yang selalu ceria, tidak lagi tertawa.
di mejanya, menatap layar, menembus batas angan, dan hanya hatinya yang membawanya jatuh kembali di tarik gravitasi bumi, dan rasa sakit hati.
Naj bukan menangis, rasa yang dirasakan tidak bisa terekspresikan dengan air mata lagi.
kering, mungkin, acuh, mungkin, atau mungkin Naj, belajar, untuk tidak menyakiti hatinya lebih dalam lagi, seperti ketika dingin menusuk jemari, bahkan gelombang dingin selanjutnya tidak akan terasa lagi.
Naj kehilangan pegangan diri, jangan berpikir harga diri, hal itu sudah lama dia lupakan ketika berhadapan dengan cinta.
Naj lupa, bahwa diawal kehidupannya dia mampu lebih mandiri, lupa merasa sendiri dan bertahan dengan kesendirian. Naj, terlarut dalam emosi, terlalu dalam.
tangis sudah tidak mungkin terjadi, Naj menutup rapat air matanya. hanya dia, atau tidak sama sekali, yang melihat air matanya jatuh lagi.

Naj, tak lagi menangis untuk laki laki lain.

layar handphone yang berkedip sekali, menandakan pesan masuk, yang membuatnya semakin terluka.
senaif itukah?
sebuta itukah?
atau secinta itukah dia?
yang dia yakini, cinta tidak menyakiti, tapi dia, melangkah lebih jauh.
lebih dalam, dan lebih sakit.
namun hasilnya, tetaplah layar handphone yang semakin membuatnya sakit.
lelaki yang ini, tidak akan membuatnya menangis.
"ya, aku tidak menangis lagi untuk lelaki lain selain ayah, dan bukan juga kamu"
Naj, di tengah hiruk pikuk kantor, menatap nanar sebuah layar.

No comments: